Gadis penjaga tikar (Dhila)

Nama:nadhila
Kelas:91
Suasana Kebun Raya Bogor dipenuhi pengunjung. Pria, wanita, muda dan tua semuanya ada di sana. Itu liburan sekolah yang panjang sehingga banyak pengunjung pergi berlibur. Mereka ingin menikmati suasana malam dan menghilangkan kebosanan.


Seorang anak kecil yang bernama dhila tiba-tiba.Dengan pakaian sederhana, ia menjajakan tikar plastik ke pengunjung ke pengunjung lain, ia terus menawarkan tikarnya. “Pak, mau menyewa tikar?” Dhila memberi tahu Pak Umar. “Berapa uang sewa satu lembar tik ini?” Tanya Pak Umar. “Lima ribu rupiah, Pak!” Dia menjawab dengan suara lembut. “Bagaimana kalau kamu mengambil tiga puluh ribu rupiah?” Tanya Pak Umar lagi. Gadis itu berhenti sejenak. Lalu dia berkata, “Baiklah, silakan pilih, Sir!”


Pak Umar memilih tikar plastik yang akan dia sewa. Di hati Pak Umar ada rasa tak tertahankan terhadap gadis itu. Seorang gadis berusia delapan tahun harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. “Apakah kamu di sekolah?” Tanya Pak Umar “Sekolah, Pak! Saya kelas empat.” Dia menjawab “Kenapa anda menyewa tikar plastik ini?” Tanya Pak Umar lagi. “Saya harus membantu ibu saya.” Gadis itu menjawab. “Di mana ayahmu?” Pak Umar bertanya lagi. “Ayah sudah lama meninggal dunia. Untuk itu, saya harus membantu ibu saya untuk mendapatkan uang,” jawab gadis itu pelan. Mendengar cerita gadis itu, Pak Umar tersentuh.


Pak Umar merasa kasihan pada anaknya. Dia mengambil beberapa puluh ribu keping dan menyerahkannya pada gadis kecil itu. “Maaf, saya tidak bisa menerima uang jika tidak bekerja,” katanya sambil menggelengkan kepalanya. “Mengapa?” Tanya Umar kaget. “Kata Ibu, saya bisa menerima uangnya jika hasilnya berhasil.


Saya tidak bisa meminta belas kasihan dari orang-orang. “Mendengar kata-kata gadis itu, Pak Umar lebih tergerak. Dia tahu ibu si kecil itu adalah orang yang berbudi luhur.” Katakan apa, jika Anda harus bekerja, sekarang bantu Anda dan keluarga Anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anti kekerasan,anti tawuran (nadhila 91)